Asal-usul Nama Salak Pondoh

Wednesday, June 17th, 2009

a hSalakPondoh Salah /Satu Produk Pertanian Kecamatan Sukoharjo
Salah Satu Produk Pertanian Desa Pucungwetan Kecamatan Sukoharjo Kabupaten Jawa Tengah Jenis salak yang berasal dari daerah Sleman

Salak PondohRasanya manis. Ada rasa masir (seperti ada bulir pasir -red) di setiap bagian dalam buahnya yang letaknya menempel dengan bijinya. Itulah . Buah asli dari Sleman DIY ini memang sejak awal ditemukan dan hingga kini masih dibudidayakan di daerah paling utara DIY ini.

Menurut pengelola Desa Wisata Trumpon Susilo Hadi, awalnya pada tahun 1982 dirinya melanjutkan perkebunan salak yang merupakan peninggalan dari leluhurnya. Rasa manis yang khas dari buah ini kemudian samakan dengan pondoh atau pangkal kelapa yang juga berasa manis. Dari situlah kemudian salak tersebut diberi nama .

“Dulu pada tahun 1982 saya mencoba menanam salak yang bibitnya dari peninggalan leluhur saya. Setelah berbuah ternyata rasanya manis seperti pondoh (pangkal kelapa). Setelah itu, salak tersebut dikenal dengan nama ,” kata Susilo Hadi kepada GudegNet beberapa waktu lalu.

Seiring dengan berjalannya waktu, salak yang kini menjadi identitas Kabupaten Sleman ini semakin digemari oleh masyarakat tak hanya dari DIY saja, tapi juga berasal dari daerah lain di luar DIY. Kota Magelang dan Banjarnegara adalah kota yang kini juga sedang membudidayakan .

Mengetahui ada potensi yang bisa dikembangkan, Pemerintah Daerah Kabupaten Sleman melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata dengan cepat dan sigap melakukan pelatihan dan pembinaan kepada masyarakat Trumpon agar daerahnya mampu dikembangkan menjadi desa wisata .

“Pada awalnya, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sleman yang melatih kami agar dusun kami bisa dikembangkan menjadi argotourism . Masyarakat diminta untuk menyediakan home stay dan menciptakan paket wisata dan hiburan lain yang mendukung,” katanya.

Dengan adanya pembudidayaan , perekonomian masyarakat khususnya Trumpon kini bisa dibilang semakin berkembang. Daerah yang dulunya sepi-sepi saja, kini bahkan mampu berubah menjadi desa agrotourism yang banyak didatangi wisatawan termasuk wisatawan mancanegara.

“Saat ini ekonomi masyarakat Trumpon meningkat berkat adanya pembudidayaan . Dusun Trumpon sudah dikenal dan banyak didatangi orang. Jalan menuju ke sini menjadi bagus dan besar. Tidak sep

Technorati Tags: Salak Pondoh, Wonosobo

Tulisan Yang Berhubungan:

Salak Pondoh Salah Satu Produk Pertanian Kecamatan Sukoharjo Wonosobo

Sunday, June 7th, 2009

Salah Satu Produk Pertanian Desa Pucungwetan Kecamatan Sukoharjo Kabupaten Jawa Tengah

Jenis salak yang berasal dari daerah Sleman, Yogyakarta, ini merupakan varietas salak unggul yang sudah sangat populer. Salah satu keunggulannya yang menonjol adalah meskipun buahnya masih muda, tetapi rasanya sudah manis. Buah berbentuk segi tiga atau bulat telur terbalik. Daging buah biasanya terdiri dari tiga septa dala.m tiap buah dan berwarna putih kapur. Ketebalannya antara 0,8-1,5 cm dan teksturnya keras. Dalam setiap buah terdapat 1-3 biji yang keras dan berwarna cokelat kehitaman. Ukuran buahnya antara 2,5-7,5 cm dan berat 30-100 g/buah. Jumlah buah per tandan antara 10-27. Salak ini mempunyai kulit buah yang paling gelap bila dibandingkan dengan lain dan bentuknya juga paling bulat. Bila dipetik pada bulan ke lima sejak bunga mekar akan terasa manis seperti lengkeng.

Buah salak dapat dimakan segar atau dibuat manisan dan asinan. Batangnya tidak dapat digunakan untuk bahan bangunan atau kayu bakar. Namun, tanaman salak baik untuk batas kebun sekaligus sebagai pengaman kebun.

Syarat Tumbuh

Salak tumbuh baik di dataran rendah hingga ketinggian 500 m dpl dengan tipe iklim basah. Tipe tanah podsolik dan regosol atau latosol disenangi oleh tanaman salak. Lingkungan yang dikehendaki mempunyai pH 5-7, curah hujan 1500–3000 mm per tahun dengan musim kering antara 4-6 bulan. Pada kondisi lingkungan yang sesuai, tanaman mulai berbuah pada umur tiga tahun. Tanaman salak muda lebih senang hidup di tempat teduh atau di bawah naungan. Oleh karena itu, umumnya salak ditanam di bawah tanaman duku, durian, atau pohon jinjing atau sengon (Albezia sp.).

Pedoman Budidaya

Perbanyakan tanaman: Salak umumnya ditanam dari biji yang diambil dari pohon salak yang bermutu baik. Namun, tanaman dari biji tidak selalu sama dengan sifat induknya (selalu berubah). Tanaman salak mulai berbuah setelah umur 3-4 tahun. Cara lain yang dikembangkan pada saat ini adalah melalui anakan atau biasa disebut “cangkokan”. Bibit dibuat dengan membumbungkan (memasukkan) potongan bambu pada pangkal tunas anakan pohon salak unggul tersebut. Potongan botol plastik atau botol infusan juga dapat digunakan sebagai bumbungan. Media cangkok yang digunakan adalah campuran tanah dan kompos (perbandingan 2:1). Setelah tunas anakan berakar dalam bumbung, bibit vegetatif ini dapat disapih. Untuk mempercepat tumbuhnya akar, biasanya pada anakan diberi Rootone-F sebanyak 1%. Budi daya tanaman: Biji ditanam langsung dalam lubang, sebanyak 3-4 biji per lubang. Ukuran lubang dibuat 50 cm x 50 cm x 40 cm, jarak antar lubang 2 m x 4 m atau 3 m x 4 m. Setiap lubang diberi pupuk kandang sebanyak 10-20 kg. Sebulan kemudian, biji mulai tumbuh. Seleksi atau pembuangan tanaman yang tidak dipilih dilakukan setelah mulai berbunga, yakni setelah berumur tiga tahun. Dalam setiap lubang ditinggalkan satu pohon yang berbunga betina atau campuran. Tanaman jantan disisakan 10% dari populasi yang ditanam sebagai sumber pejantan. Pupuk buatan diberikan tiga bulan sekali sebanyak 25-500 g NPK (15-15-15) dan terus meningkat sesuai umur tanaman. Pada umur 1-3 tahun sebanyak 25-300 g per pohon, lalu umur 3-10 tahun sebanyak 300–500 g per pohon. Pada penanaman dengan cangkok, tiap lubang hanya ditanam satu bibit saja. Tanaman dijaga agar tetap lembap, cukup air, dan mendapat naungan. Leguminose dan Gliricidia (gamal) dapat digunakan sebagai naungan. Pelepah daun paling bawah dikurangi agar matahari masuk merata dan memudahkan pekerja pemeliharaan melewati jalan di antara barlsan tanaman.

Pemeliharaan

Pemeliharaan tanaman salak yang penting adalah menjaga kebersihan kebun dan membuang tunas anakan yang muncul. Umumnya, pembuangan tunas anakan dilakukan setelah dicangkok dan terus hidup. Jumlah daun yang disisakan maksimum sekitar 17 helai. Pelepah daun dipangkas dengan gergaji atau sabit tajam. Dengan cara ini, sinar matahari dapat masuk ke kebun salak dan pengambilan buah pun mudah dilakukan. Biasanya, bakal buah sebesar kelereng tumbuh rapat sekali pada tiap tandan. Bakal buah perlu dibuang (penjarangan) agar buah salak tumbuh besar dan merata.

Hama dan Penyakit

Hama yang timbul pada tanaman salak adalah kutu wol (putih) atau Cerataphis sp. yang bersembunyi di sela-sela buah. Selain itu, kumbang (uret) atau omotemnus sp. sebagai penggerek tunas. Tupai dan tikus juga menjadi hama yang menjengkelkan. Hama ini dapat diatasi dengan Furadan 3 G dan semprotan insektisida Tamaron 0,3%. Penyakit yang sering tampak adalah noda hitam pada daun akibat cendawan Pestalotia sp. dan penyalat busuk merah (pink) pada buah dan batang oleh cendawan Corticium salmonicolor. Tanaman sakit dan daun yang terserang harus dipotong dan dibakar di tempat tertentu karena sulit dikendalikan.

Panen dan Pasca Panen

Buah salak dapat dipanen setelah matang benar di pohon, biasanya berumur enam bulan setelah bunga mekar (anthesis). Hal ini ditandai oleh sisik yang telah jarang, warna kulit buah merah kehitaman atau kuning tua, dan bulu-bulunya telah hilang. Ujung kulit buah (bagian buah yang meruncing) terasa lunak bila ditekan. Pemanenan buah dengan cara memotong tangkai tandannya. Hasil tanaman salak di Bali dapat mencapai 15 ton/hektar. Panen besar antara bulan Oktober-Januari.

Technorati Tags: Salak Pondoh, Wonosobo

Tulisan Yang Berhubungan: