Mengolah Tinja WC Menjadi Bahan Bakar Gas Untuk memasak
Saturday, May 30th, 2009Dua artikel Berikut adalah referensi untuk menggunakan tinja dari WC sebagai bahan bakar alternatif, sehingga wc dapat dijadikan kompor untuk memasak.
Solusi minyak mahal, solusi bahan bakar mahal : karena bahan bakar harganya terur membumbung tinggi, maka harus ada bahan bakar alternatif, misalnya memanfaatkan Wc untuk memasak dengan membuat kompar menggunakan wc istilah kerennya bio gas
Ponpes Nurul Ulum Kota Blitar Mengolah Tinja Santri Menjadi Bahan Bakar Gas Tiga Tahun Septic Tank penuh, Kini Satu Kompor dari 50 Tinja Santri Kelangkaan minyak tanah dan elpiji yang sekarang ini terjadi tak dipersoalkan oleh santri Pondok Pesantren Nurul Ulum, Kota Blitar. Sudah seminggu ini, kotoran santri sendiri dimanfaatkan sebagai bahan bakar untuk memasak. Saat menyusuri belakang pondok pesantren Nurul Ulum, Kota Blitar terlihat kamar mandi dan water closed (WC) berjejer. Tak kurang berjumlah 12 kamar mandi yang dilengkapi dengan WC. Hampir setiap jam, pintu kamar mandi tertutup alias digunakan para santri membuang hajat besar. Apalagi ponpes itu memiliki santri berjumlah ratusan orang.
Tepat di depan kamar mandi itu terdapat bangunan yang kokoh, karena dicor beton. Bangunan tersebut berukuran 10 x 4 meter. Tepat di ujung bangunannya terdapat dua pipa berukuran sedang menyembul keluar. Pipa tersebut mengelilingi pagar pondok. Jika ditelusuri pipa itu menuju ruang kantin. “Pipa itulah yang kami sebut sebagai pipa serbaguna. Karena berkat pipa itu pekerjaan santri di sini lebih mudah,” kata Badrudin, ketua kelompok swadaya pondok pesantren Nurul Ulum.
Pria yang juga salah satu pengurus pondok ini pun mengajak koran ini menelusuri lebih jauh tentang peberadaan pipa tersebut. Ternyata pipa yang ditempelkan pada pagar batako itu berisi gas metan yang bisa digunakan untuk memasak. Tak ada yang mengetahui secara pasti kapan ide memanfaatkan tinja santri tersebut muncul.
Tapi, satu alasan yang pasti, pengurus pondok perlu menelaah agar bisa mengatasi masalah tinja yang setiap hari terus menerus bertambah banyak. “Ya alasannya karena di setiap pondok besar yang dihuni santri dengan jumlah besar, satu yang menjadi perhatian yakni masalah tinja. Ini yang membuat kami putar otak untuk mengatasinya,” tambah Badrudin. Bayangkan, lanjut Badrudin, sebelum pemanfaatan tinja tersebut hampir tiga atau empat tahun terpaksa harus menyedot WC. Pasalnya, septic tank sudah terisi
penuh. Nah, seiring dengan perkembangan pondok yang semakin banyak dihuni santri akhirnya pengurus pondok sibuk bagaimana mencari jalan keluar, tetapi bermanfaat. Apalagi saat ini jumlah santri sebanyak 625 orang. Salah satunya dengan membuat sanitasi guna memanfaatkan tinja tersebut. “Kami tertarik dengan keberadaan tinja yang bisa dimanfaatkan,” tambah Badrudin lagi. Sayang, besarnya biaya pembangunan sempat menjadi kendala. Setelah berjuang keras, akhirnya masalah teratasi lewat lobi ke pemerintah. Badrudin mengatakan setidaknya ada beberapa elemen dan instansi yang turut menjadi pioner dalam pembangunan sanitasi tersebut. Mereka yakni Pemkot Blitar, Departemen Pekerjaan Umum Jawa Timur, Pemprov Jatim, Borda Jogjakarta dan Best Surabaya dan lain sebagainya. “Kami menggandeng karena biaya pembangunannya tidaklah sedikit,” kata KH Agus Muadzin, pimpinan pondok yang didirikan 1994
lalu.
Agus Muadzin mengatakan besarnya pembangunan sanitasi mencapai Rp 337 juta. Untuk teknis pembangunannya, akhirnya pihak pondok menggandeng pendamping dan fasilitator. Pembangunan kompor tinja ternyata cukup simpel alias mudah. Tinja yang berasal dari kamar mandi dikumpulkan di tempat tertentu dalam bak besar di dalam tanah. dengan kedalaman sekitar tiga meter. Bak-bak dibangun terpisah.
Ada dua alat yang berperanan penting, Yakni digister dan filter. Digester berfungsi sebagai pengumpul sediment penghasil biogas. “Dari digester dan filter inilah gas disalurkan ke kompor. Pipa dipasang kran untuk membuka gas, tinggal nyalakan. Sudah jadi,” timpal Badrudin lagi. Pasca diluncurkan, keberadaan api yang dihasilkan dari tinja benar-benar berguna. Api yang berasal dari tinja kini digunakan untuk memasak dan memenuhi kebutuhan makan para santri. Satu tungku kompor kini membutuhkan tinja 50 tinjasantri. “Lebih irit. Sebelumnya menghabiskan 40 liter mitan. Kini kami bisa mengandalkan gas ini untuk memasak,” kata Anjarwati, wanita yang didapuk sebagai pemasak makanan bagi santri pondok.Rencananya, tak hanya digunakan memasak saja, tetapi juga menerangi ruangan-ruangan pondok. Harapannya, agar tidak lagi bergantung pada listrik yang semakin mahal.
Sementara itu, Wali Kota Blitar Djarot Saiful Hidayat saat meninjau pondok mengaku cukup bangga. “Nantinya tidak hanya pondok sini saja yang menggunakan, tetapi juga warga,” kata Djarot.
Hal senada juga diungkapkan Sekkota Blitar Anang Triono. “Ini bisa dijadikan alternatif ibu rumah tangga di tengah sulitnya harga bahan bakar yang melambung tinggi. Dan pemerintah siap untuk mendukung. Sekaligus bisa dijadikan bahan pembelajaran,” kata Anang yang juga menyempatkan diri meninjau keberadaan energi alternatif tersebut.
sumber jawa pos
Solusi minyak mahal, solusi bahan bakar mahal : karena bahan bakar harganya terur membumbung tinggi, maka harus ada bahan bakar alternatif, misalnya memanfaatkan Wc untuk memasak dengan membuat kompar menggunakan wc istilah kerennya bio gas
———–
http://www.lintasberita.com/Sains/Minyak_Tanah_Mahal_Gunakan_Kompor_Berbahan_Bakar_Tinja
Vote Down
Minyak Tanah Mahal ?,Gunakan Kompor Berbahan Bakar Tinja
Minyak Tanah Mahal ?,Gunakan Kompor Berbahan Bakar Tinja
Di tengah keresahan meluas masyarakat menjelang kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), sejumlah warga di Kelurahan Balowerti, Kecamatan/Kota Kediri tenang-tenang saja.
Apa sebab? Karena selama beberapa tahun terakhir, sejumlah warga Balowerti tidak lagi memakai BBM untuk keperluan masak-memasak. Mereka telah mendapatkan bahan bakar alternatif secara gratis dari tinja (kotoran manusia) yang diolah menjadi biogas.
“Kami tak terlalu risau dengan kenaikan harga BBM. Kami sudah empat tahun ini disuplai biogas tinja untuk keperluan memasak. Nyala api dari biogas tinja berwarna biru seperti gas elpiji,” ungkap Aris, 35, yang memanfaatkan biogas tinja dari WC atau ponten umum Kelurahan Balowerti saat ditemui Surya, Kamis (15/5).
Rumah keluarga Aris di sebelah ponten umum tersebut. Sejak dibuat instalasi di ponten umum itu guna mengelola tinja jadi biogas pada 28 Januari 2004, keluarga Aris memutuskan untuk jadi yang pertama memakai bahan bakar itu.
“Sebelumnya, setiap minggu saya harus membeli minyak tanah Rp 50.000. Sekarang gratis,” kata Aris.
Hanya bermodal pipa paralon dan keran air serta selang kecil yang dipakai seterusnya, Aris sudah bisa mendapatkan biogas cuma-cuma. Instalasi biogas berbahan baku tinja ini persis berada di tengah-tengah ponten umum.
Menurut petugas teknis pengelola biogas tinja, Muhammad Tohari, 49, saat ini biogas tersebut baru disalurkan ke lima kepala keluarga (KK) selain ke rumah Aris. Mereka adalah keluarga Sutrisno (penjual nasi), Martuni dan Sahid (penjual soto), Fredi serta Tarmuji.
Mereka berada di lingkungan RT 09/RW 03 Balowerti. “Dengan kabar akan naiknya harga BBM, hampir semua warga di Balowerti kini minta disaluri biogas. Tapi, karena kapasitasnya saat ini hanya mampu menyaluri 10 KK, permintaan itu masih akan dibicarakan dengan BORDA,” jelas Tohari.
BORDA (Bremen Overseas Research and Development Association) adalah lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang berkedudukan di Yogyakarta. Lembaga inilah yang berinisiatif untuk membuat ponten umum yang bisa dimanfaatkan untuk menghasilkan biogas tinja.
Ponten umum yang tinjanya dipakai bahan baku biogas itu, berdiri di atas lahan 20 meter persegi di wilayah RT 09/RW 03. Bangunan ponten terdiri atas 10 WC dan dua kamar mandi. Air buangan dari ponten umum ditampung dalam tiga septic tank kedap suara dan kedap air.
Septic tank itu lantas dihubungkan dengan bangunan pengolah (digester) biogas yang berbentuk semacam bungker, yang terbuat dari beton bertulang. Bungker ini dipasang di dalam tanah sedalam lebih dari 3 meter dengan diameter 1,5 meter. Lokasi bungker itu persis di depan ponten.
Air sisa mandi yang tak bisa dimanfaatkan langsung dibuang ke got, setelah terlebih dahulu disaring dengan campuran pasir dan alat penyaring.
Dari septic tank itulah, tinja mengalami proses fermentasi tanpa udara (karena septic tank tertutup rapat) oleh bakteri methan, yang kemudian menghasilkan gas methan. Gas methan ini apabila dibakar dapat menghasilkan energi panas, yang kemudian bisa disebut sebagai bahan bakar biogas..
Biogas itu ditampung di bungker-bungker untuk kemudian disalurkan ke rumah-rumah yang memakainya. “Untuk menguji apakah bisa berfungsi sebagai biogas, awalnya dipakai 20 karung kotoran ayam lebih dulu. Kini sudah murni pakai tinja. Keluar nyala api pertama kali memang dibarengi bau tak sedap. Tapi setelah itu tak ada bau, dan nyala api biru,” kata Tohari sambil mengangkat panci dari tungku biogas tinja di dapurnya.
“Rasa masakan yang dimasak dengan biogas tetap enak seperti kalau menggunakan kompor minyak tanah atau masakan yang dibeli di warung,” imbuhnya.
Adakah solusi bahan bakar mahal agar kebutuhan hidup tercukupi: karena bahan bakar harganya terus membumbung tinggi, maka harus ada bahan bakar alternatif, misalnya memanfaatkan Wc untuk memasak dengan membuat kompar menggunakan wc , itu yang menurut saya paling efektif.


